<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342</id><updated>2011-08-23T18:35:33.044+07:00</updated><title type='text'>Tempat Berdebat</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-4333191284274806787</id><published>2010-06-03T23:12:00.002+07:00</published><updated>2010-06-03T23:14:33.950+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Hari Gini Orang Masih Perlu Tuhan</title><content type='html'>Kalau orang percaya kepada sesuatu yang tidak bisa dideteksi dan diindera, orang tersebut akan dikategorikan sebagai orang gila atau pengkhayal.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau orang ramai percaya kepada sesuatu yang yang tidak bisa dideteksi dan diindera, orang ramai tersebut akan dikategorikan sebagai umat beragama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengapa demikian?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mari kita perdebatkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-4333191284274806787?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/4333191284274806787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2010/06/mengapa-hari-gini-orang-masih-perlu.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/4333191284274806787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/4333191284274806787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2010/06/mengapa-hari-gini-orang-masih-perlu.html' title='Mengapa Hari Gini Orang Masih Perlu Tuhan'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-9099542077375845409</id><published>2010-04-24T20:02:00.002+07:00</published><updated>2010-04-24T20:05:19.313+07:00</updated><title type='text'>Mau Berdebat Apa Lagi</title><content type='html'>Apakah yang menarik untuk diperdebatkan sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukan deh. Apa saja. Bisa dalam bentuk pertanyaan, bisa dalam bentuk kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya: Kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berdebat mengenai kuda. Bagi pemberi komentar pertama silakan memaparkan pandangannya tentang kuda. Apa saja tentang kuda. Sebagai simbol kejantanan, keindahannya, kekuatannya, atau citranya dalam lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pemberi komentar kedua bisa mendukung dengan memberi tambahan, pendapat penguat, atau bisa juga menyanggah, membantah, dengan pendapat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berdebat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-9099542077375845409?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/9099542077375845409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2010/04/mau-berdebat-apa-lagi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/9099542077375845409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/9099542077375845409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2010/04/mau-berdebat-apa-lagi.html' title='Mau Berdebat Apa Lagi'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-2142267436516324159</id><published>2009-06-28T17:13:00.005+07:00</published><updated>2009-06-28T17:27:22.063+07:00</updated><title type='text'>Barang Lawas Diangkat Lagi: Tidak Perawan, 97% Mahasiswi Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Ada penelitian kurang kerjaan yang dilansir oleh Iip Wijayanto, Ketua Lembaga Studi Cinta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 97,05% mahasiswi di Jogjakarta kehilangan keperawanannya pada saat kuliah. Tentu saja angkanya mencengangkan. Hampir semua orang merasa--gut feeling belaka--ini pasti salah. Bahwa banyak mahasiswi kehilangan keperawanannya (akibat seks pra-nikah) tentu saja; sebetulnya tidak terlalu mengherankan dan mengkhawatirkan, tapi 97%? Pake ditambah 0,05% lagi?&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Saya lampirkan hasil penelitiannya, dan dibawahnya, komentar dari saya. Yang lebih mengherankan sebetulnya adalah publikasi yang dilakukan oleh media dan hingar-bingarnya di kalangan masyarakat. Penelitian seperti ini seharusnya langsung masuk tong sampah saja. Tidak perlu diangkat ke media bahkan. Kalau mau diangkat, redaksi seharusnya tidak menelan hasil penelitiannya mentah-mentah, tapi membahasnya dengan kritis, kalau perlu, meragukan hasil penelitiannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Berikut hasil penelitian Iip Wijayanto:&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: 12px; line-height: 19px; "&gt;INILAH SURVEI KEPERAWANAN di YOGYAKARTA &lt;br /&gt;Detik.com&lt;br /&gt;Sungguh mencengangkan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah. &lt;br /&gt;Penelitian ini dipaparkan dalam jumpa pers Kamis (1/8/2002). Berikut naskah komplet hasil penelitian yang disebarkan pada wartawan: &lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;97 Persen Mahasiswi Di Yogyakarta,&lt;br /&gt;Sudah Kehilangan "Virginitas (Keperawanan)"&lt;br /&gt;Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora &lt;br /&gt;I. TUJUAN PENELITIAN &lt;br /&gt;A. Konteks Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana kerusakan dan dekadensi moral yang sudah terjadi di tengah-tengah generasi muda kita, khususnya pada jenjang usia (data interval) antara 17 tahun - 23 tahun atau sering diistilahkan sebagai usia rata-rata mahasiswa kita dalam menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi. Mengapa ini sangat perlu dilakukan? Kami memiliki beberapa alasan: &lt;br /&gt;• Penetrasi pornografi yang meningkat pesat melalui jaringan penyewaan VCD porno (model semi-triple), buku dan majalah porno lokal maupun impor dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;• Maraknya aksi seks di kost-kostan yang hampir merata di seluruh wilayah pemukiman mahasiswa yang ada di Jogjakarta. &lt;br /&gt;• Meningkatnya tingkat aborsi, khususnya di region Jawa Tengah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini yang dilakukan oleh kelompok usia sasaran penelitian. &lt;br /&gt;• Meningkatnya kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh mahasiswi-mahasiswi, dalam berbagai tingkatan status dari penjaja seks sosial, penjaja seks suka sama suka hingga yang murni komersial. &lt;br /&gt;• Meningkatnya tingkat peredaran narkoba sebagai fasilitas pendukung untuk dapat menikmati seks lebih maksimal.&lt;br /&gt;• Meningkatnya kegiatan kumpul kebo, terlembaga atau pun tidak. &lt;br /&gt;Atas dasar alasan-alasan inilah kami terpanggil untuk melakukan penelitian ini, agar dapat ditemukan berbagai treatment, formulasi serta langkah-langkah antisipatif untuk merespon perubahan yang sangat cepat ini. &lt;br /&gt;B. Fokus Penelitian &lt;br /&gt;Adapun kami memfokuskan penelitian ini kepada komunitas mahasiswi yang tersebar di seluruh institusi perguruan tinggi di Jogjakarta. Pemilihan kelompok sasaran perjenis kelamin ini adalah karena pada umumnya secara psikologis mereka dapat lebih jujur dalam memberikan data yang kami butuhkan. Selain itu kegiatan seks penuh (intercourse sex) harus dilakukan berpartner sehingga dari sana secara langsung dapat diketahui seberapa banyak pelaku kegiatan seks di luar nikah itu dari kelompok sasaran lawan jenisnya yang bisa jadi dalam deret hitung atau bahkan deret kali. &lt;br /&gt;Sedangkan untuk wilayah, kami memilih Jogjakarta karena secara geografis sebaran lokasi perguruan tinggi tidak terlalu menyulitkan untuk dapat dicapai dalam waktu cepat selain kendala finansial yang memang dialami oleh banyak peneliti, khususnya para peneliti sosial.&lt;br /&gt;II.STUDI PENDAHULUAN &lt;br /&gt;Untuk mendukung akurasi dan tingkat keilmiahan penelitian kami ini, kami membuat kerangka kerja dalam penelitian kami ini yang meliputi: &lt;br /&gt;Metode yang digunakan &lt;br /&gt;Jenis metode yang digunakan adalah Metode Penelitian Deskriptif Survei, meliputi : &lt;br /&gt;Pendekatan menurut teknik sampling. &lt;br /&gt;Pendekatan menurut timbulnya variable. &lt;br /&gt;Pendekatan menurut pola-pola atau sifat non-eksperimen. &lt;br /&gt;Pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan. &lt;br /&gt;Sumber data &lt;br /&gt;Kami membuat beberapa kuisioner tertutup dan lebih spesifik melalui wawancara, sehingga sumber data kami dapat disebut sebagai: responden (orang yang menjawab pertanyaan peneliti, lisan atau pun tulisan) &lt;br /&gt;Teknik analisis data &lt;br /&gt;Untuk menghindari terjadinya garbage in garbage out (data yang kita olah tidak jelas, akan menghasilkan sesuatu yagn tidak jelas) maka kami menggunakan teknik analisis yang digunakan oleh Denzin dan Lincoln, 1994:429 yang meliputi: koleksi data; display data; reduksi data dan kesimpulan penggambaran/vertifikasi. &lt;br /&gt;Jadwal dan waktu pelaksanaan &lt;br /&gt;Penelitian, analisis dan evaluasi akhir kami lakukan mulai dari tanggal 16 Juli 1999 hingga tanggal 16 Juli 2002 atau sekitar 3 (tiga) tahun. Mengapa terlalu lama, karena kami menetapkan standar yang tinggi untuk setiap data yang kami kumpulkan serta jumlah responden yang cukup mewakili. Selain itu, untuk setiap responden dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dapat mengeluarkan statement jujur.&lt;br /&gt;III. RUMUSAN MASALAH &lt;br /&gt;A. Deskripsi Informasi &lt;br /&gt;Pada paruh tahun 1999, kami membaca di salah satu surat kabar bahwa hampir 50% mahasiswa di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse. Statemen ini tentunya ibarat gunung es karena ternyata kalau kita lihat terus ke belakang, ternyata angka peningkatannya bukan lagi deret hitung tapi deret kali. Dan data-data ini signifikan. &lt;br /&gt;Lebih jauh karena fungsi Yogyakarta sendiri sebagai kota pendidikan sehingga ketika muncul temuan seperti ini maka banyak sekali hal-hal yang harus kita kaji ulang. Sebagai contoh dengan kegiatan visit-tourism, di satu sisi itu adalah devisa namun pernahkah kita memperhitungkan penetrasi budaya yang ditularkan dari wisatawan manca tadi kepada penduduk lokal yang ternyata jika kita mau mengkajinya lebih jernih bahwa kerugian kita akibat erosi moral ini ke depannya akan jauh lebih mahal ketimbang jumlah orientasi materi yang dapat kita raih. Dan semuanya adalah ongkos sosial yang sangat mahal untuk ditebus oleh anak cucu kita. &lt;br /&gt;A. Deskripsi Penemuan &lt;br /&gt;Terlalu banyak temuan yang sangat memilukan, yang kami temukan selama kegiatan penelitian ini berlangsung. Secara keseluruhan kami melibatkan 2.000 responden yang berasal dari 16 institusi perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Yogyakarta. Dari angka tersebut, kami berhasil mendapatkan responden yang bersedia untuk menjadi pemasok data sejumlah 1.660 orang responden atau sekitar 83% dari target awal. &lt;br /&gt;Kemudian kami menetapkan angka 1.660 responden inilah sebagai keseluruhan data yang akan dianalisis. Berbagai temuan yang terkadang terlihat lucu tapi terasa sangat pedih itu, dan setidaknya perlu kami masukkan dalam tulisan report ini sebagai bahan perenungan kita bersama diantaranya : &lt;br /&gt;• Hampir semua responden pernah melakukan kegiatan seks, baik itu yang sifatnya self service maupun berpartner. &lt;br /&gt;• Kegiatan aborsi berbahaya dan berisiko tinggi yang dilakukan hampir oleh seluruh mereka yang mendapat kehamilah di luar nikah. Salah satu contoh dengan menelan obat flu dan ragi dalam jumlah besar. &lt;br /&gt;• Tidak ditemukan tindakan pemaksaan dalam kegiatan seks tadi, atau semuanya dilakukan atas dasar suka sama suka. &lt;br /&gt;• Rata-rata sudah pernah melakukan tindakan seks hingga tingkat petting, oral seks dan anal seks. &lt;br /&gt;• 25% dari total responden (415) bahkan sudah melakukannya dengan lebih dari satu partner. &lt;br /&gt;C. Analisis Data &lt;br /&gt;Total Responden: 1660 orang&lt;br /&gt;Data nominal (discrete)&lt;br /&gt;Teknis : Cluster Random &lt;br /&gt;Analisis : &lt;br /&gt;Hanya ditemukan 3 orang saja responden yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk juga kegiatan seks self service (masturbasi). Jadi hanya terdapat angka 0,18% responden yang sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks tadi. Ke-3 responden tadi juga mengaku sama sekali belum pernah mengakses tontonan maupun bacaan erotis. &lt;br /&gt;Hanya ditemukan 46 orang yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner di bawah level petting sex. Jadi sekitar 2,77% saja. Total dengan responden sebelumnya, jumlah responden yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner : 2,77% + 0,18% = 2,95% saja. Jadi 97,05% mahasiswi di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse pranikah atau 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan kegadisannya dalam proses studinya. &lt;br /&gt;100% dari 97,05% data responden itu mengakui kehilangan keperawanannya (virginitas) dalam periodisasi waktu kuliahnya. &lt;br /&gt;73% menggunakan metode coitus interupt sedangkan selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas. &lt;br /&gt;63% responden melakukan kegiatan seks di kos-kosan partner seks prianya. 14% responden mengaku melakukan kegiatan seks di kos-kosan atau kontrakan yang disewanya. 21% mengaku melakukan kegiatan seks di hotel kelas melati. 2% responden melakukan kegiatan seks di tempat-tempat wisata yang terbuka. &lt;br /&gt;Dari 1660 responden, 23 orang diantaranya mengaku telah melakukan kegiatan kumpul kebo atau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan selama lebih dari 2 tahun (1,386%). 5 orang (0,3%) diantaranya mengaku mendapatkan izin dari orangtua si responden. 2 orang diantaranya (0,12%) bahkan tinggal seatap dengan orangtua dari salah satu pihak, dan kegiatan seksnya diketahui oleh orangtua tanpa treatment pernikahan. &lt;br /&gt;1.417 responden (85,36%) mengakui tidak punya aktivitas lain selain kuliah. &lt;br /&gt;98 responden (5,90%) mengaku pernah melakukan aborsi. &lt;br /&gt;23 responden (1,38%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari satu kali. &lt;br /&gt;12 responden (0,72%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari dua kali. &lt;br /&gt;D. Hipotesis &lt;br /&gt;99,82% mahasiswi di Yogyakarta sudah mengenal seks dan pernah melakukan kegiatan yang mengarah ke sana. 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan virginitas melalui kegiatan intercourse-seks. &lt;br /&gt;D.Hipotesis: &lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi informasi yang luar biasa dan tatanan dunia global, seks telah menjadi kebutuhan pokok pada usia yang sangat dini. Keterangan : Usia dini di sini bukanlah kematangan organ seks, tapi kematangan psikis untuk menghadapi risiko dan konsekuensi akibat kegiatan seks tadi. &lt;br /&gt;Sistem pendidikan kita telah gagal mencerdaskan moral anak bangsa&lt;br /&gt;IV. KESIMPULAN, SARAN DAN REKOMENDASI &lt;br /&gt;Kesimpulan: &lt;br /&gt;• 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan. &lt;br /&gt;• Virginitas/ keperawanan bukanlah sesuatu yang sangat penting lagi pada saat ini. &lt;br /&gt;• Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh. &lt;br /&gt;• Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan. &lt;br /&gt;• Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20 tahun ke depan. &lt;br /&gt;Saran dan Rekomendasi: &lt;br /&gt;• Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan pemukiman komersial. &lt;br /&gt;• Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah. &lt;br /&gt;• Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi. &lt;br /&gt;• Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh pemerintah harus diturunkan. &lt;br /&gt;• Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga nikah siri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Ini penelitian super ngawur. Kurang kerjaan, bias gender, dan berangkat dari pemikiran yang sesat, semisal Keperawanan=Moralitas. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Mari kita kupas satu satu kesimpulannya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Dari mana peneliti tahu hal ini? Angket? Wawancara? Untuk memastikan bahwa responden tidak perawan, peneliti harus melakukan pemeriksaan fisik, oleh dokter. Kalau cuma wawancara atau angket, pasti biasnya besar. Kurang kerjaan? Memang. Ngapain bikin penelitian ngurusin urusan privat, bahkan yang paling privat. Apa relevansinya coba dengan perikehidupan bermasyarakat?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Virginitas/ keperawanan bukanlah sesuatu yang sangat penting lagi pada saat ini. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Ya jelas tho. Oleh karena itu ngapain diurus? Apakah peneliti paham dengan sesungguhnya mengapa perempuan memiliki apa yang disebut selaput dara/hymen yang sering dijadikan tanda keperawanan?  Paham posisi hymen dalam sejarah evolusi biologis bentuk-bentuk kehidupan? Dan mengapa dijadikan tanda bagi masyarakat patriarchal? Ini harus masuk dulu ke dalam latar belakang. Mengekalkan keperawanan sebagai pertanda moralitas atau kesetiaan perempuan sama saja dengan mengekalkan ketidakpahaman kita terhadap tubuh dan mengekalkan masyarakat patriarchal, di mana hanya perempuanlah yang harus perawan, sementara laki-laki sah-sah saja tidak perjaka.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Paradigma budaya itu apa? Bergeser dari mana ke arah mana? Bangsa Indonesia dulu perawan semua sebelum menikah? Kata siapa? Terjadi peningkatan kegiatan sex (intercourse) pra nikah? Mana statistiknya? Lalu kalau keperawanan berubah, budaya sebelah mana yang berubah? Seni tari? Seni rupa? Budaya pergaulan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Paradigma budaya, entah apa definisinya, mustinya adalah sesuatu yang cair. Budaya selalu bergerak. Kalau budaya mati, bangsanya pasti mati. Budaya yang tak bergeser lagi, misalnya budaya Pompeii, budaya Azteq, budaya Inca, budaya maya, budaya Mesir kuno. Kenapa? Karena bangsanya udah punah. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Ini adalah penarikan kesimpulan yang terlalu jauh. Yang diteliti selangkangan, kesimpulan yang diambil mencakup seluruh isi pemahaman/pengetahuan dan interaksi manusia (budaya) dalam radius 60 km dari selangkangan. Jelas sampel-nya tidak representatif.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Masalah keperawanan bisa saja diarahkan pada kesimpulan begitu. Tapi bisa juga diambil kesimpulan bahwa agama kini semakin digunakan sebagai kedok. Artinya, hipokritas/kemunafikan meningkat. Mengapa? Karena penelitian lain menyebutkan bahwa persentase perempuan berjilbab meningkat. Penelitian lain menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pesat di sektor bisnis pakaian wanita muslim. Kok pada saat yang sama seks pra-nikah meningkat? &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;PKS menggunakan jumlah penonton Ayat-Ayat Cinta sebagai pertanda bahwa gairah keagamaan (Islam) meningkat. Apakah ini menurunkan jumlah perempuan yang sudah tidak perawan? &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Perda syairah diterapkan di mana-mana, tapi keperawanan merosot. Coba ada berapa rambu-rambu agama? Berapa banyak yang ngurus selangkangan? Belum lagi kalau bicara mengenai interpretasi atau tafsir, semakin repot lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Kalau dengan meneliti selangkangan berani bilang "paradigma budaya sudah bergeser jauh" mengapa tidak sekalian mengambil kesimpulan, "agama sudah tidak diperlukan lagi karena tidak berguna dan hanya meningkatkan kemunafikan"?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20 tahun ke depan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Lha, ini yang saya bilang berangkat dari formula yang salah, tapi dipegang teguh oleh peneliti bahwa keperawanan=moralitas. Terlalu banyak bukti, baik di Indonesia maupun di negara manapun, kehilangan keperawanan akibat aktivitas seksual pra-nikah tidak mengakibatkan erosi moral. Dan generasi muda yang menganut paham sex bebas tidak juga membawa kengerian pada masa depan suatu bangsa atau negara 20 tahun kemudian.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Peneliti harus memberikan beberapa contoh kasus sebagai pembanding yang bisa menunjukkan bahwa tingkat keperawanan amat krusial bagi kemajuan atau sebaliknya bagi kehancuran suatu bangsa. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Kalau ingin membuktikan secara empiris, sebetulnya gampang. Semua gadis yang belum menikah diwajibkan mengenakan celana dalam bergembok dan kuncinya ada di KUA/kantor catatan sipil, dan hanya bisa diambil oleh suami setelah menikah. Tanpa perbaikan sarana kesehatan dan pendidikan, tanpa perbaikan di sektor ekonomi, tanpa perbaikan penegakan hukum dan HAM, tanpa perkembangan teknologi, dan tanpa pergeseran paradigma budaya, kita lihat saja apakah celana dalam bergembok berhasil menyelamatkan bangsa dari kehancuran, atau malah jadi sumber penyakit? Yang pasti keperawanan terjaga bukan? Apa itu yang dimaui oleh si peneliti?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Saran dan Rekomendasi: &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan pemukiman komersial. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Apa urusannya? Ini namanya memata-matai rakyat untuk urusan yang super tidak penting. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Lha ini. Ini juga berangkat dari paradigma yang salah. Saya tidak paham apa yang dimaksud dengan standar paradigmatik. Maksudnya siapa yang harus menurunkan standar usia menikah? Masyarakat? Orang-orang yang ingin menikah? Bagaimana caranya mengubah standar paradigmatik ini? Orang dianjurkan untuk menikah di usia muda? Supaya angka seks-pra menikah menurun? Beranikah peneliti bertanggung jawab bahwa policy ini tidak akan meningkatkan angka perceraian beberapa saat sesudahnya? Tidakkah akan terjadi, ketika usia menikah paradigmatik menurun, usia seks pra-nikah pun ikut menurun, secara paradigmatik? Bukankah demikian kelazimannya?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Saya tidak tahu ada peraturan seperti ini, tapi saya setuju bahwa menikah adalah hak asasi setiap orang, dan jika seseorang sudah mencapai usia yang disepakati hukum, seharusnya ia berhak dan boleh menikah terlepas dari statusnya sebagai pelajar, pengangguran, ataupun 'ketuaan.'&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Saya sepakat dengan ini, tetapi saya mempertanyakan kaitan peraturan ini dengan keperawanan. Tidakkah terpikir oleh peneliti bahwa ketika para pelajar di usia 18 tahun ramai-ramai menikah, apakah bisa dipastikan bahwa pengantin belum kehilangan keperawanannya di usia 16 atau 14 tahun. Sama dengan usul menurunkan usia menikah paradigmatik itu tadi. Bukankah justru ini dikhawatirkan bisa meningkatkan seks pra nikah di usia sangat-sangat-sangat dini?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh pemerintah harus diturunkan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Saya sepakat di sini. Memang biaya apapun untuk pelayanan negara harus semurah mungkin. Bahkan sebisa mungkin gratis. Kita sudah bayar pajak. Tapi pertanyaannya, apa urusannya dengan keperawanan? Dengan seks pra nikah? Apa kalau murah dijamin orang akan memilih untuk segera menikah dan tidak memilih seks di luar nikah? Apakah penelitian ini memberikan korelasi signifikan antara tingkat kemampuan mahasiswi membayar/daya beli mahasiswi dengan keperawanannya? Yang lebih kaya lebih terjamin keperawanannya sebelum menikah dibanding yang miskin, yang tak mampu membayar biaya pernikahan yang diterapkan pemerintah?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Maksudnya bagaimana ini? Gadis-gadis yang mampu secara ekonomi lebih memilih untuk menikah karena mampu membayar biaya pernikahan yang diterapkan pemerintah daripada kehilangan keperawanan sebelum menikah dengan pacarnya? &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Pernahkah peneliti membayangkan apa yang dilakukan dua orang pasangan ketika memutuskan untuk menikah? Persiapan yang mereka lakukan? Lamanya waktu untuk persiapan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Dan pernah jugakah peneliti membayangkan bagaimana seorang gadis kehilangan keperawanannya dalam sebuah seks pra-nikah? "Oh, jangan sekarang mas, penetrasi vaginalnya, Mas. Kita daftar ke KUA dulu, kita bilang orang tua dulu, kamu dengan orangtuamu melamar dulu ke orang tua saya, rembug tuo, daftar ke KUA, undang Pak Kadi, ijab kabul, nah kalau sudah ijab kabul, barulah boleh mas penetrasi vaginal." &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Bukankah penelitian ini bicara mengenai keperawanan? Mengenai penetrasi vaginal yang merusak selaput dara/hymen perempuan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Lagi-lagi, bagaimana mungkin urusan selangkangan yang begini sempit (no pun intended) tiba-tiba menghasilkan kesimpulan yang begitu jauh masuk ke dalam sistem anggaran dan administrasi negara? Berapa ribu rupiah penurunan biaya nikah dapat meningkatkan berapa persen keperawanan mahasiswi? Coba, saya mau tanya itu. Kalau gratis? Semua mahasiswi dijamin perawan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;• Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga nikah siri&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Nah ini lagi, sama dengan di atas. Nikah siri, nikah kontrak, apa urusannya dengan keperawanan lagi? Apa masalah nikah ke KUA atau ke catatan sipil itu susah makanya para mahasiswi melepaskan keperawanannya sebelum menikah? &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Pertanyaan besar sekali: Apa sih urusannya keperawanan (hilangnya hymen/selaput dara wanita) dengan pernikahan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Apa sih hubugannya seks dengan pernikahan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Bung, seks is seks, pernikahan is pernikahan. Ini coba lagi belajar evolusi biologi mahluk hidup, pelajari tentang sejarah seks atau sejarah kelamin. Lalu juga belajar sejarah sosial atau sejarah peradaban manusia. Bagaimana lembaga pernikahan/perkawinan diciptakan. Bagaimana lembaga agama dan juga negara kemudian ikut campur tangan dalam lembaga pernikahan dan perkawinan. Ini dipahami dulu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Kesimpulan besarnya: Penelitian ini berangkat dari pemikiran (paradigma, kata penelitinya) yang sesat. Metoda penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sample dan responden diragukan validitasnya. Hasil penelitian diragukan validitasnya. Antara subjek penelitian dengan kesimpulan nggak nyambung, blas! Bahasa kerennya: Tidak ada koherensi. Penelitiannya apa, kesimpulannya entah ke mana.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Gitu ya. Bullshitlah si Iip Wijayanto ini. Cari sensasi aja. mBok ngurusi yang lebih penting, semisal tingkat stres mahasiswa dan mahasiswi di Jogjakarta. Kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan negara di Jogjakarta. Daya kritis mahasiswa dan mahasisiwi di Jogjakarta. Kemampuan menyampaikan dan menyerap ide dalam bahasa asing/daerah mahasiswa/i Jogja. Penelitian mengenai ideologi yang dianut mahasiswa/i jogjakarta, mengenai gerakan, dan perubahan arah gerakan mahasiswa/i sepanjang sejarah. Ada jutaan tema bisa dihasilkan dari mahasiswa dan mahasiswi Jogjakarta, kenapa yang dipilih yang paling sempit (no pun intended)? Kenapa malah ngurus selangkangan?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande; min-height: 13.0px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 11.0px Lucida Grande"&gt;Bukankah 'paradigma' ini berangkat dari alasan yang sama mengapa orang menyewakan, memasarkan, dan menjual tabloid atau VCD porno? Karena ini mengasyikan, sensasional, dan dicari orang?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-2142267436516324159?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/2142267436516324159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/barang-lawas-diangkat-lagi-tidak.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/2142267436516324159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/2142267436516324159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/barang-lawas-diangkat-lagi-tidak.html' title='Barang Lawas Diangkat Lagi: Tidak Perawan, 97% Mahasiswi Yogyakarta'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-9088655284873666117</id><published>2009-06-23T15:02:00.006+07:00</published><updated>2009-06-28T19:22:46.720+07:00</updated><title type='text'>Kapitalisme Pahala</title><content type='html'>Saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'courier new';"&gt;Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Eksperimennya berjalan seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. Saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. Tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Dia orang mampu, bukan orang yang berpuasa--seperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itu--karena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. Kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. Ah, kesempatan baik. Kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? Disiplin tidak punya. Ketulusan relijius tidak terpelihara. Niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. Tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. Alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala 'murah meriah' pada saat azan magrib berkumandang. Buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. Sebagai seorang 'investor pahala' tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. Ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. Blarrr! Dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. "Ada apa?" katanya. "Jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya? Lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan  godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa dengan taktik 'menghindar'  adalah puasa anak TK, puasa for beginner, menurut saya. Saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan VCD porno. Murni hanya sebagai tantangan. Buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. Film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. Kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, "Kamu kan tahu saya sedang berpuasa...." Saya jawab, "Tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji. Biarlah dosa memutar VCD maksiat ini saya tanggung sendiri." Dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat Ashar di kamar saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Matahari makin menggelincir ke barat. Tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. Mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. "Jangan," kata saya, "kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya." Lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. Dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. Saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. "Lho...." dia terheran-heran. Mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. Saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya diam saja. Lalu di parkiran warung, saya katakan, "Kamu kan sudah makan, sudah 'isi bensin', gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. Lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Bajingan!" Itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari Nabi. Saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya...." demikian saya berupaya membendung kekesalannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Lho, tapi kan saya ikhlas. Kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. Saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Nggak bisa! Mending dapet pahala daripada duit. Duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Brengsek. Lu emang kapitalis curang. Pahala dikira dagangan apa?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Ape kate lo aje deh."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan TV, sampai tiba waktunya sahur lagi. Dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. Mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya juga tidak terlalu peduli. Jaminan Nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-9088655284873666117?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/9088655284873666117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/mengakali-pahala.html#comment-form' title='23 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/9088655284873666117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/9088655284873666117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/mengakali-pahala.html' title='Kapitalisme Pahala'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-5558776867750353620</id><published>2009-06-20T19:20:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T19:28:46.189+07:00</updated><title type='text'>Anda Ingin Tampak Cerdas?</title><content type='html'>Jika Anda kesulitan membuat tulisan yang terlihat cerdas, terutama dalam kaitannya dengan tema-tema pos-modernis, cobalah jejalkan preposisi dan ajektif sebanyak-banyaknya dalam tiap kalimat. Gunakan sebanyak mungkin kata dalam satu kalimat, sedemikian rupa sehingga mengaburkan subyek-objek-predikat kalimat Anda dan orang yang membacanya akan lupa ujung pangkal inti kalimat Anda.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan demikian, pembaca, terutama yang berniat menyanggah pendapat Anda dan menantang Anda berdebat, akan merasa rendah diri atau minder, lalu mengurungkan niatnya. Biasanya, daripada disangka bodoh, orang akan mangut-mangut pura-pura mengerti lalu memberi pujian, "Bagus, bagus...."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahasa Inggris? Tidak masalah, selama interaksi dilakukan secara tertulis, misalnya dalam perdebatan di mailing list atau blog, bisa saja dilakukan. Pergilah ke entah di mana, jumpai entah siapa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maksud saya, kunjungilah elsewhere.org/pomo &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anda bisa membuat banyak orang terkesan. Maksud saya orang bodoh atau orang-orang yang suka berpura-pura cerdas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-5558776867750353620?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/5558776867750353620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/anda-ingin-tampak-cerdas.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/5558776867750353620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/5558776867750353620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/anda-ingin-tampak-cerdas.html' title='Anda Ingin Tampak Cerdas?'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-7973663505029631816</id><published>2009-06-20T19:17:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T19:19:17.992+07:00</updated><title type='text'>Anda Ingin Tambah Tinggi?</title><content type='html'>Bukan&lt;div&gt;Ini bukan iklan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika Anda ingin tambah tinggi, pakailah "O"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"O" membuat Anda &lt;/div&gt;&lt;div&gt;menjadi Ondo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-7973663505029631816?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/7973663505029631816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/anda-ingin-tambah-tinggi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/7973663505029631816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/7973663505029631816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/anda-ingin-tambah-tinggi.html' title='Anda Ingin Tambah Tinggi?'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-2077861832155626691</id><published>2009-06-20T19:01:00.001+07:00</published><updated>2009-06-20T19:14:04.231+07:00</updated><title type='text'>Bahasa Inggris Saya Lebih Baik dari Google Translate</title><content type='html'>Saya tidak sombong. Bahasa Inggris saja juga tidak bagus-bagus amat. Tapi iseng-iseng, saya coba menerjemahkan kata pengantar halaman blog ini ke dalam bahasa Inggris.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tadinya saya mau menerjemahkan kata pengantar blog ini ke dalam berbagai bahasa, tapi saya uji dulu, apakah hasil terjemahannya memadai. Atau malah bikin malu saja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya coba dulu ke dalam bahasa Inggris, karena setidaknya saya bisa memperkirakan kualitasnya. Jika langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol atau Perancis, mana saya bisa tahu kualitas hasil terjemahannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya coba masukan teks pengantar blog ini ke dalam google translate, hasilnya:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; font-family:-webkit-monospace;"&gt;This blog is a place debate &lt;br /&gt;I invite anyone to debate in this place. &lt;br /&gt;Requirements, while there is no, at most, use ethics. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ethics which, in the definition of who or limitation? Now it also needs to be debated. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debate is a tool, not a destination. &lt;br /&gt;Also reached the conclusion not purposes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps the objective, before this debate more later, at least, is to make those involved in the debate, either to give opinions on, contradict, or simply to read, become more intelligent of the past. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simply that. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the first theme, I do not want to give actual proposal. Can be anything that's hot at this time, for example, the RS Prita Mulyasari and Omni International, or Manohara, or Capres and Cawapres best to you. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please only start the debate at any time you like, with any topic that you proposed.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px;font-family:-webkit-monospace;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cukup memalukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-2077861832155626691?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/2077861832155626691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/bahasa-inggris-saya-lebih-baik-dari.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/2077861832155626691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/2077861832155626691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/bahasa-inggris-saya-lebih-baik-dari.html' title='Bahasa Inggris Saya Lebih Baik dari Google Translate'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3278284098043501342.post-4332336003829962969</id><published>2009-06-20T18:35:00.000+07:00</published><updated>2009-06-20T18:39:24.260+07:00</updated><title type='text'>Blog ini Adalah Tempat Berdebat</title><content type='html'>Saya mengundang siapa saja untuk berdebat di tempat ini.&lt;div&gt;Syarat, sementara tidak ada, paling-paling, gunakanlah etika.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Etika yang mana, dalam batasan atau definisi siapa? Nah itu juga perlu diperdebatkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berdebat adalah alat, bukan tujuan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mencapai kesimpulan bukan pula tujuan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Barangkali tujuannya, sebelum ini nanti diperdebatkan lebih lanjut, setidaknya adalah untuk membuat mereka yang terlibat dalam perdebatan, entah aktif memberikan pendapat, menyanggah, atau sekadar membaca, menjadi lebih cerdas dari sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesederhana itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk tema pertama, saya tidak ingin memberi usul sebenarnya. Bisa apa saja yang hangat saat ini, misalnya mengenai Prita Mulyasari dan RS Omni International, atau Manohara, atau Capres dan Cawapres terbaik menurut Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Silakan saja memulai perdebatan kapan saja Anda mau, dengan topik apapun yang Anda usulkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3278284098043501342-4332336003829962969?l=mariberdebat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mariberdebat.blogspot.com/feeds/4332336003829962969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/blog-ini-adalah-tempat-berdebat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/4332336003829962969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3278284098043501342/posts/default/4332336003829962969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mariberdebat.blogspot.com/2009/06/blog-ini-adalah-tempat-berdebat.html' title='Blog ini Adalah Tempat Berdebat'/><author><name>Malin Kundang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16626978379004607823</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_r0wBqYi7Jd4/SjzLwT1BqXI/AAAAAAAAAAM/5FYq7ABOCjs/S220/malinkundang.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
